Safala, Udin (2025) Negotiating Pure Ideas and Religious Thought in Qur’anic Exegesis: An Analysis of Muḥammad Saʿīd al-ʿAshmāwī’s ConceptofHomosexuality Verses. QOF Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir, 9 (2). pp. 245-260. ISSN 2598-5817 (printed), 2614-4875 (online)
Preview |
Text
BUKTI KORESPONDENSI_UDIN SAFALA -fixed .pdf Download (1MB) | Preview |
Abstract
AbstractThis study examines Muḥammad Saʿīd al-ʿAshmāwī’s conceptual approach to interpreting Qur’anic versesconcerning homosexuality, emphasizing the distinction between al-fikr al-ṣāfī(pure ideas) and al-fikr al-dīnī(religious thought). Al-ʿAshmāwī asserts that pure ideasare transcendent and objective, whereas religious thought constitutes human interpretation influenced by social, historical, and cultural contexts. The study aims to explore how this framework enables exegesis that preserves normative principles while remaining responsive to contemporary social, ethical, and legal dynamics. Employing a qualitative methodology through literature review, the analysis is both thematic-categorical and epistemological, examining relevant Qur’anic versesand al-ʿAshmāwī’s works. Findings indicate that his approach foregrounds the moral, ethical, and social essence of revelation, treating legal prescriptions as contextually constructed by humans. By integrating classical and modern hermeneutics with local and global perspectives, this method ensures interpretations remain relevant to issues of justice, human dignity,and contemporary social dynamics. The study contributes to the development of a transformative exegetical framework that bridges transcendent principles and human interpretive needs in a humanistic, critical, and practical manner, offering a methodological foundation for contemporary Qur’anic studies.
AbstrakPenelitian ini menganalisis gagasan Muḥammad Saʿīd al-ʿAshmāwī dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an terkait homoseksualitas, dengan menekankan distingsi antara al-fikr al-ṣāfī(ide murni) dan al-fikr al-dīnī(pemikiran agama). Al-ʿAshmāwī menegaskan bahwa ide murni bersifat transenden dan obyektif, sementara pemikiran agama merupakan interpretasi manusia yang dipengaruhi konteks sosial, sejarah, dan budaya. Penelitian ini bertujuan menelusuri bagaimana gagasan tersebut memungkinkan penafsiran wahyu yang tetap mempertahankan prinsip normatif, namun responsif terhadap dinamika sosial, etis, dan hukum di era modern. Metodologi yang digunakan bersifat kualitatif melalui studi pustaka, dengan analisis tematik-kategoris dan epistemologis terhadap ayat-ayat terkait dan karya-karya al-ʿAshmāwī. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan al-ʿAshmāwī menekankan inti moral, etis, dan sosial dari wahyu, sementara aspek hukum dipahami sebagai konstruksi manusia yang kontekstual. Pendekatan ini mengintegrasikan hermeneutika klasik dan modern, perspektif lokal dan global, sehingga interpretasi tetap relevan dengan isu keadilan, martabat manusia, dan dinamika sosial kontemporer. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka tafsir transformatif yang menjembatani prinsip transenden dan kebutuhan interpretasi manusia secara humanis, kritis, dan aplikatif, sekaligus menawarkan landasan metodologis bagi studi tafsir kontemporer.
| Item Type: | Journal Article |
|---|---|
| Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180113 Family Law 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | Eny Supriati |
| Date Deposited: | 07 Jan 2026 06:26 |
| Last Modified: | 07 Jan 2026 06:26 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
